Benarkah Industri Perikanan Tangkap Penyebab Utama Kerusakan Ekosistem Laut?

Program Studi Magister Konservasi laut selenggarakan Webinar Nasional dengan tema: “Pengelolaan Konservasi Laut di Indonesia, apa dan bagaimana kabarnya?”. Webinar yang diselenggarakan pada tanggal 19 April 2021 ini mengangkat tema tentang apa dan bagaimana pengelolaan konservasi laut.

Yang menarik dari webinar ini adalah bagaimana Prof. Zuzy Anna memberikan tanggapan terhadap film dokumenter terkini yang berjudul “Seaspiracy” yang di-release oleh Netflix, terkait beberapa isu kelautan global yang dapat dibilang sangat kelam dan juga beberapa kesimpulan yang cukup kontroversial.

Pada webinar ini Prof. Zuzy sebagai salah satu keynote speakers menyampaikan bahwa tidak semua kesimpulan yang diberikan oleh “Seaspiracy” itu benar karena pada kenyataannya beliau berpendapat bahwa sustainable fisheries atau perikanan yang berkelanjutan itu ada. Namun, memang dalam praktiknya pengawasan serta law enforcement yang ketat perlu diimplementasikan.  Sebaliknya beliau juga setuju bahwa pemerintah harus menghapuskan subsidi perikanan yang bersifat destruktif, misalnya subsidi penggunaan bahan bakar fosil seperti solar.

Selain itu, kesimpulan dokumenter tersebut terhadap pembatasan konsumsi ikan laut tidak disetujui dan dianggap misleading mengingat ikan laut adalah sumber protein tinggi dan sumber pendapatan bagi masyarakat di Negara miskin ataupun Negara berkembang.


Presentasi Dr. Handoko Adi Susanto, M.Sc. tentang Perkembangan Kebijakan Kawasan Konservasi Laut Indonesia

Dua narasumber lainnya yaitu Dr. Handoko Adi Susanto, M.Sc. sebagai regional manager ATSEA-2 Project dan Katherina Tjandra, S.Si. sebagai salah satu mahasiswa program studi magister konservasi laut . Kedua narasumber tersebut membahas bagaimana contoh-contoh kasus pengelolaan kawasan konservasi seperti Marine Protected Areas dan bagaimana strategi-strategi konservasi laut yang telah dilakukan sejauh ini.

Pengelolaan kawasan konservasi laut memang bukanlah hal yang mudah dan tergolong kompleks mengingat banyak sekali kepentingan yang ada baik dari para pemegang kebijakan, swasta, maupun masyarakat lokal. Dalam suksesnya pengelolaan kawasan konservasi laut, peran aktif kelompok masyarakat (seperti halnya masyarakat adat Papua masyarakat adat daerah lainnya) menjadi sangat penting karena mereka lah yang langsung berhadapan dengan sumberdaya laut yang ada di wilayahnya sehingga konservasi dan ekonomi dapat berjalan secara beriringan secara berkelanjutan.

Acara ini sukses dilaksanakan dengan jumlah peserta lebih dari 200 orang yang berasal dari berbagai latar belakang, baik dari instansi pemerintahan dan pendidikan maupun dari sektor non-pemerintahan (NGOs).